Pasukan Quraisy Ketakutan
Perang,  Sejarah

Pasukan Quraisy Ketakutan Melawan Dua Pemuda

Pasukan Quraisy ketakutan dan lari pontang – panting manakala mereka menghadapi notabenenya hanya dua pemuda ingusan minim pengalaman masih bau kencur. Terlibatnya pemuda ke sebuah pertarungan memperjuangkan nama baik Islam sudah menjadi tradisi jauh sebelum terjadinya perang Badar ratusan tahun lalu.

Ketika suatu masa terdapatlah pertempuran sengit bertajuk Hamra’Al-asad, seakan belum puas atas kekalahan bertubi – tubi dari musuhnya para manusia kafir. Alkisah, sejumlah tentara Islam sedang terpojok akibat kekalahan atas perang Uhud dan lukanya bahkan belum bisa terbilang sembuh atau membaik.

sahabat nabi gagah berani membela islam

Dalam kondisi penuh sayatan dan tebasan menganga, mereka memilih patuh terhadap perintah Allah dan terus maju berperang pada pertempuran berikutnya. Sebagai seorang muslim yang taat, pasukan Uhud segera menyerbu prajurit Quraisy walaupun badannya sudah hancur lebur terlihat tak keruan.

Pada sebuah literasi, Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah Lc, MA, kita juga dapat memanggilnya sebagai Ustad Khalid Basalamah. Beliau menerangkan bahwa tidak kurang dari tujuh puluh jiwa tewas secara terhormat dalam Perang Uhud dan bersifat syahid.

Jumlah prajurit tersisa sekitaran enam ratus tiga puluhan jiwa, lemah lunglai berjalan menahan seluruh rasa sakit di tubuhnya. Meski demikian, mereka tidak manja dan memutuskan tetap menyelesaikan perjalanan kembali ke kampung halaman di Madinah, dekat daerah Mekkah.

Pasukan Quraisy Ketakutan Menghadapi Prajurit Lemah Tak Berdaya

Luka berat yang mereka alami bukan menjadi halangan untuk tetap bersyukur atas keselamatan nyawa mereka kepada Allah SWT. Lagipula sang pemimpin perang saat itu, Rasulullah SAW pun terluka dalam pada wilayah punggungnya serta beberapa giginya remuk dan pecah.

Para sahabat Nabi pun setia kawan ingin membantu Rasulullah SAW memenangkan perang Uhud sehingga sudah pasti mereka juga terluka berat. Dua di antaranya merupakan anak muda bersaudara kandung yang menderita parah sampai harus diangkut menggunakan tandu sepanjang perjalanan pulang.

dua pemuda gigih mematuhi perintah Allah

Sepulangnya menuju rumah tempat tinggal, kedua pemuda itu hanya mampu pasrah dan berserah diri terbaring di ranjang sambil menerima perawatan. Ketika hendak menunaikan ibadah shalat, mereka sebisa mungkin beribadah memanfaatkan lirikan mata mengikuti setiap gerakan imam shalat lima waktu.

Betapa mengenaskan kondisi kedua anak muda bernasib malang tersebut, harus menanggung penderitaan sedemikian beratnya pasca perang. Namun apa bisa berkata, sejumlah prajurit lainpun mengalami nasib serupa sehingga tidak satu pun berani mengeluh terhadap nasib mereka masing – masing.  Pasukan Quraisy ketakutan adalah harapan mereka supaya jangan sampai tertumpah darah lebih parah lagi dari hari ini.

Kepatuhan Penuh Membuat Kita Mengalami Kebesaran Allah SWT

Pasca kembalinya ratusan prajurit gagah berani sepulangnya dari Perang Uhud, Rasulullah SAW mematuhi kata Tuhan untuk mengepung tentara Quraisy. Allah SWT juga dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa tidak ada satupun prajurit Perang Uhud yang boleh tertinggal di Madinah.

Setelah berita beredar dengan cepat, sampailah juga kepada telinga kedua anak bersaudara ini sehingga mereka pun tidak tinggal diam. Keduanya membulatkan tekad apapun keadaannya harus berpartisipasi sebagai prajurit pembela Islam yang kuat dan gagah berani sampai tetes darah penghabisan.

Kepatuhan Penuh Membuat Pasukan Quraisy Ketakutan

Bersusah payah mereka bangun dari tempat peristirahatan, bahkan hanya untuk sekedar melangkahkan kaki saja perlu tenaga berlebihan baru bisa berjalan. Rasulullah SAW begitu tersentuh sekaligus sedih sehingga tanpa sadar air matanya membasahi wajah beliau melihat kegigihan tentara muda ini.

Kisah dramatis tersebut siapa sangka tersebar hingga ke seluruh penjuru negeri dan terdengar sampai wilayah perbatasan tempat musuh menetap. Mengetahui hal tersebut, pasukan Quraisy ketakutan setengah mati sampai ada pula yang terkencing – kencing di celana membayangkan semangat tempur lawannya.

Begitulah apabila kita mematuhi perintah Tuhan tanpa menggunakan kata tapi, maka pasti Ia membela umatNya dengan kebanggaan. Perang Hamra’Al-asad pun dimenangkan oleh pasukan Rasulullah SAW tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun. Kejadiannya sungguh berbeda jauh ketimbang jaman sekarang di mana Perang Suriah berlarut-larut hinggga sekarang tanpa henti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *