Korban Perang Pasca Kemerdekaan
Dunia,  Perang,  Sejarah

Korban Perang Pasca Kemerdekaan Tolak Kompensasi Dari Belanda

Korban perang pasca kemerdekaan yang menjadi bulan – bulanan Belanda saat itu menolak untuk menerima ganti rugi berupa uang sebagai kompensasinya. Salah satu korban bernama Abdul Halik, mengatakan bahwa ia merasa pantas mendapatkan jumlah yang jauh lebih layak atau setidaknya setara dengan kompensasi untuk janda oleh pemerintahan Belanda.

Sekumpulan anak dari para korban hasil pembantaian massal oleh prajurit Belanda pasca kemerdekaan 1945 – 1950 merasa tersinggung. Pasalnya, jumlah nominal yang ditawarkan negara kincir angin tersebut hanya sekitar 5000 euro atau kurang lebih Rp86 juta saja, menyebabkan mereka naik banding ke sana.

Korban Perang Pasca Kemerdekaan Tolak Kompensasi Dari Belanda

Raja yang memerintah Belanda saat ini yaitu Willem Alexander menyatakan ucapan permintaan maaf secara resmi kepada negara Indonesia. Ia mengaku telah menyesali perbuatan para leluhurnya puluhan tahun lalu yang ia sampaikan dalam sebuah kunjungan resmi kenegaraan pada Istana Bogor awal 2020 kemarin.

Korban perang lainnya yaitu Sardjono Danardi begitu terkejut karena baru mengetahui bahwa ia dapat menggugat Belanda selama ini. Sekilas balik ke masa itu, Belanda berniat merebut kembali kedaulatan Indonesia setelah Jepang melepaskan tanah jajahannya dan pulang ke kampung halaman.

Ayah Sardjono bernama Letkol dr. Sudjono, seorang personil kedokteran untuk brigardir IX berjulukan Kuda Putih yang namanya cukup disegani. Nama Kuda Putih adalah bagian dari pionir taktik gerilya saat perjuangan meraih kemerdekaan berdasarkan pimpinan langsung dari Letkol Ahmad Yani di Magelang.

Korban Perang Pasca Kemerdekaan Menuntut Keadilan ke Belanda

Fakta perang dunia ke 2 sebetulnya telah sering dilanggar khususnya oleh pihak penjajah dari seluruh dunia kepada lawannya yang tertindas olehnya. Sardjono tidak seharusnya menjadi korban perang pasca kemerdekaan, seandainya Belanda mematuhi aturan internasional mengenai perang dunia pada masa tersebut.

Ia bercerita bahwa sang ayahanda tertangkap oleh kelompok KNIL bulan Februari 1949 ketika hendak membersihkan diri di sebuah sungai. Beliau berjuang untuk melarikan diri sehingga panik dan melompati pagar, namun ia terpeleset sehingga berguling di tanah dan timah panas pun menembus tubuhnya.

Korban Perang Pasca Kemerdekaan Menuntut Keadilan ke Belanda

Berdasarkan ilmu hukum manca negara, tindakan para serdadu Belanda telah menyimpang dari Undang – Undang Humaniter Internasional. Hukum yang berbunyi pada aturan tersebut yaitu larangan tegas terhadap tenaga medis dalam sebuah kondisi peperangan yang kacau balau.

Sekumpulan perawat yang sedang mandi saat itu membawa serta perlengkapan obat – obatan sehingga mustahil tentara Belanda tidak mengetahuinya. Namun, pembantaian tetap terjadi dan bahkan mereka lakukan dengan kejam tanpa rasa kemanusiaan sedikitpun terhadap nasib tim medis yang malang itu.

Kisah patriotik sang ayah lantas diangkat kedalam sebuah buletin eksklusif milik TNI Angkatan Darat tak lama setelahnya demi mengenang jasa beliau. Kebetulan, nama sang penulis sama persis dengan si anak korban yaitu Sardjono, menyebabkan beberapa pembaca berita tersebut cukup kebingungan sejenak sekaligus merasakan keunikan dari suatu kebetulan.

Menukar Nyawa Manusia Dengan Lembaran Uang Kertas

Setelah kabar mengenai inisiatif Belanda yang ingin menawarkan ganti rugi, sejumlah korban perang pasca kemerdekaan langsung mengadakan pertemuan internal. Mereka telah menerima informasi bahwa para janda menerima 20 ribu Euro, sehingga dengan demikian mengharapkan nilai serupa untuk menjadi tanda ganti rugi atas nyawa ayah mereka.

Alangkah terkejutnya mereka ketika mendatangi pengadilan Belanda dan hanya berhak menerima uang tunai senilai Rp86 juta atas semua kerugian yang ditimbulkan. Angka yang terlalu kecil bahkan untuk sekedar membayar jasa pengacara lokal maupun luar negeri yang menangani kasus tersebut.

Korban Perang Pasca Kemerdekaan Menukar Uang Kertas

Sardjono menceritakan ketika ayahnya mati ditembak, ia masih bayi berusia enam bulan sehingga belum sempat membuat kenangan bersama – sama. Sang ibu pun memutuskan untuk menikah lagi, sehingga ia diambil alih oleh sang kakek untuk merawatnya hingga tumbuh besar menjadi seorang yang dewasa.

Sardjono kini telah berusia 71 tahun, melanjutkan kisahnya bahwa ia baru paham akan tragedi meninggalnya sang ayah di umur lima tahun. Namun, fakta bahwa almarhum meninggal karena proses penembakan baru ia ketahui secara jelas menjelang masuk sekolah menengah atas.

Hancur sekali hatinya mendengar hal tersebut, mengingat ayahnya wafat bukan karena hal wajar seperti sakit atau usia tua melainkan korban kekejaman Belanda. Letkol dr. Sudjono telah masuk kategori sebagai sosok pahlawan dalam tubuh TNI, sehingga namanya dikutip menjadi penamaan sebuah rumah sakit ketentaraan di Magelang, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *