Perang Maha Bharata
Dunia,  Film,  India,  Perang,  Sejarah

Kisah Perang Maha Bharata Paling Epic Dalam Sejarah Umat Manusia

Kisah perang paling epic sepanjang umat manusia berkembang biak memenuhi bumi sepertinya belum pernah ada saingannya selain Maha Bharata seorang. Ejaan Sansekertanya yaitu महाभारत merupakan koleksi berharga peninggalan sastra bertuah dari berbagai macam campuran kerajaan India zaman dulu kala.

Pengarang cerita asli legenda Maha Bharata adalah sosok pria perkasa dari pedalaman India bernama Begawan Byasa, dapat pula tertulis Vyasa. Terpecah dalam beberapa volume utama, terlaporkan ada total 18 kitab bergelar Astadasaparwa. Cara membacanya kira-kira seperti ini: Asta mewakili angka 8, Dasa artinya 10, Parwa berarti kitab. Sudah berbeda jauh dengan yang terjadi di yordania yaitu kasus black september

Masih menjadi perdebatan sengit di kalangan arkeolog India, tetaplah mereka sepakat menyimpulkan resmi bahwa Maha Bharata punya 18 jilid kitab. Maklum saja, kisah ini banyak simpang siur tersampaikan oleh rakyat lewat metode mulut ke mulut mulai abad 4 sebelum masehi.

Perang Maha Bharata1

Bukanlah berisikan hanya seputar puji-pujian terhadap para pahlawan daerah alias Viracarita, kitab Maha Bharata terkandung sarat makna akan kepercayaan Hindu. Ia pun mengajarkan sederetan nilai filosofis, petuah, serta nasehat tentang segala macam aspek kehidupan umat manusia di muka bumi.

Atas dasar itulah, masyarakat India murni mengganggap sakral Maha Bharata laksana sebuah kitab suci, terlebih apabila ia memeluk Hindu Sikh. Sehubungan sulitnya mempelajari ejaan kuno naskah Sansekerta, para penerbit modern berinisiatif menyunting kitab kebanggaan bangsa India ke bahasa Inggris internasional.

Kisah Perang Paling Epic Maha Bharata Punya Versi Beragam

Selama ratusan tahun perburuan oleh kelompok peneliti lintas generasi, kisah perang paling epic Maha Bharata memiliki beraneka macam versi tersendiri. Paling mencolok adalah dua kitab tertua berbahasa asli Sansekerta yang letaknya sungguh bertolak belakang, masing-masing berasal dari utara dan selatan.

Kisah Perang Paling Epic Maha Bharata Punya Versi Beragam

Menjelang sekitaran 1919 hingga 1966, sekumpulan ahli pengamat prasejarah dari Bhandarkar Oriental Research Institute memadukan sumber dari dalam dan luar India. Hasilnya begitu mencengangkan, pasalnya naskah terkumpul mencapai 13 ribu lembar sehingga totalnya ada 19 volume. Supaya lebih akurat, penambahan kitab Harivamsa masuk 2 volume beserta 6 volume indeks.

Singkatnya, Maha Bharata mengisahkan perseteruan pada tubuh organisasi Pandawa Lima melawan kelompok berjulukan 100 Korava seputar perebutan kepemilikan lahan Astina. Puncak peperangan berpusat pada tragedi Bharata Yuddha berlokasi di wilayah Kurusetra berdurasi 18 hari lamanya siang malam tanpa henti.

Kitab legenda Maha Bharata sejatinya adalah sebuah napak tilas atas penuturan Resi Vesampayana kepada penguasa setempat Maha Raja Jana Mejaya. Beliau merupakan contoh paling tepat menggambarkan kegagalan mengelola pemerintahan di mana ia bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan upacara adat pengorbanan ular.

Perang paling epic seperti Maha Bharata terwujud sebagai perwakilan sengitnya pertempuran dalam suatu keluarga besar meskipun persaudaraan erat tercipta sangat kental. Para pemimpinnya kini menjadi kenangan indah masyarakat India, dari pihak Pandawa muncullah Yudhistira, sementara saudara pada kubu sebelah punya Duryudana.

Perseteruan Pandawa Dan Korawa Memuncaki Kisah Perang Paling Epic

Meskipun terdapat banyak sekali perbedaan di kedua kubu termasuk jumlah personilnya, Pandawa dan Korawa sesungguhnya berakar pada satu leluhur. Kedua komunitas kelompok tersohor dari segala jajaran marga besar kerajaan India ini berakar pada satu leluhur, yaitu Kuru serta Bharata.

Perseteruan Pandawa Dan Korawa Memuncaki Kisah Perang Paling Epic

Awal mulanya terlalu klise, tidak jauh-jauh meliputi sifat iri dengki bersambut kelicikan Duryodana sang ketua Korawa terhadap prestasi gemilang klan Pandawa. Kelima personil Pandawa pun sering kali menanggapi ulah saudara mereka dengan pikiran jernih dan ketenangan diri tingkat tinggi berbuah kesabaran.

Seratus anggota Korawa mempunyai satu ayah tunggal bernama Dretarastra, di mana beliau mencintai semua putera penerus masa depan pelestarian keturunannya. Ketulusan cinta sang bapak seringkali menjadi alat tunggangan Sangkuni dan Duryodana untuk menghasut Dretarastra, yaitu ipar serta anaknya sendiri.

Pada satu kesempatan emas, Duryodana mengelabui Pandawa Lima supaya mau secara sukarela pergi berlibur bersama-sama ke satu pondok tengah hutan. Ketika malam hari tiba, diam-diam Duryodana membakar habis rumah itu akibat lalapan lidah api menyambar meluluh lantakkan seluruh bangunan.

Rupanya dewa-dewa masih menyayangi para Pandawa, berujung pada pengutusan pahlawan gagah perkasa Bima turun ke bumi menyelamatkannya dari kobaran api. Bima menuntun mereka membelah hutan, lalu bertemu rakshasa Hidimbi seraya jatuh cinta dan menikah. Setelah bercumbu mesra, pasangan sakti mandra guna tersebut menciptakan kisah baru karena melahirkan Gatot Kaca, pemiliki otot kawat tulang besi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *