kenyataan pahit perang
Dunia,  Perang,  Sejarah

Kenyataan Pahit Perang Justru Berasal Dari Pakta Perdamaian

Kenyataan pahit perang tidak pernah menjadi sangkaan semua orang bahwasanya ia sesungguhnya berakar dari hal kontradiktif seperti perjanjian perdamaian. Tanpa terasa juga kita telah melalui tiga perempat abad masa kemerdekaan semenjak tahun 1945 berlalu tepatnya pada 17 Agustus.

Pernah suatu ketika, pecah situasi perang dingin menyelimuti dunia mendekati tahun 1960 awal sehingga memaksa Indonesia menempatkan diri tanpa blok. Tercetusnya Gerakan Non Blok berawal dari penggelaran Konferensi Asia-Afrika terlaksana di Bandung sekitaran 1955 silam bersama negara rekanan se-aliansi.

Sepuluh tahun setelahnya, pemetaan dunia terbelah dalam tiga bagian besar, yaitu negara tingkat pertama alias ‘perkumpulan Sekutu’ memiliki kepala AS. Tingkat ke dua merupakan negara penganut paham komunis hasil pimpinan politik Uni Soviet bersama kawan setianya yaitu Tiongkok.

kenyataan pahit perang justru berasal dari perdamaian

Presiden Soekarno saat itu sama sekali tidak merasa malu sedikitpun, manakala Indonesia bergabung bersama negara berkembang lainnya dalam kategori dunia ke tiga. Pengelompokkan kurang menguntungkan kita raih sebagai ganjaran ‘hukuman’ karena menolak untuk memihak salah satu blok.

Demi semakin melancarkan politik peraihan dukungan, kedua belah kubu mencuci otak masyarakat bumi dengan penggunaan istilah negara maju, berkembang, kemudian tertinggal. Indonesia sekali lagi harus menelan pil pahit mendapat penghinaan karena masuk kelompok berkembang dan hampir saja tertinggal.

Kenyataan Pahit Perang Tercipta Berkat Lahirnya Perdamaian

Keadaan tidak berubah banyak meski Perang Dunia II telah lama usai puluhan tahun sesudahnya, terus berlanjut berkesinambungan hingga masa sekarang. Ironis sekali mengingat lirik lagu band Gigi berbunyi ‘banyak orang cinta damai, namun peperangan makin ramai’ adalah sungguh benar adanya.

Kenyataan pahit perang tidak pernah kita terima ajarannya secara gamblang dalam kurikulum pelajaran sejarah oleh pihak pemerintah Republik Indonesia. Lebih miris lagi saat menyadari bahwa penjajahan atas sebagian besar negara termasuk Indonesia sebetulnya masih berlangsung dalam bentuk perangai halus.

Apabila setiap dari kita mau lebih jujur terhadap kenyataan atas kondisi bumi, pembagian paling realistis adalah adanya negara kuat dan lemah. Golongan negara kuat perlu memelihara status quo sebab suasana damai melancarkan benefit ke lumbung mereka.

kenyataan pahit perang tercipta berkat perdamaian

Sebagai negara lemah, sudah sepantasnya ia menjadi followers yang tunduk dan patuh mengikuti rules negara full power kalau mau bertahan. Dengarkan fakta menyakitkan ini: kedamaian saat ini adalah ilusi karena hanya milik segelintir kelompok, khususnya negara berkekuatan penuh.

Jika masih sulit untuk memahaminya, cobalah pendekatan kalimat berikut ini: kedamaian sekarang adalah anugerah pemberian negara kuat, mereka memutuskan untuk damai. Jika mau, mereka tidak keberatan untuk inisiatif membuka penyerangan terlebih dahulu khususnya bila itu menguntungkan pihak mereka.

Penguasa Dapat Mengatur Kondisi Damai Atau Perang Sesuai Kebutuhan

Berbekal pengetahuan seputar ilmu politik, perusahaan raksasa asal Belanda yaitu VOC rela menerapkan strategi Divide et Impera terhadap bangsa Indonesia. Tujuannya sama sekali tidak tersembunyi, yaitu ingin menyulap wilayah nusantara berubah fungsi jadi koloni VOC untuk siap mereka perah sekuatnya.

Supaya lintasan dagang teroptimalisasi secara maksimal, ia termonopoli pada satu pintu melalui izin VOC sehingga Belanda bisa menelanjangi kita. Kompeni bersatu padu dengan kompak sepemahaman dalam mengadu domba rakyat supaya pecah perang saudara dalam tubuh penduduk Indonesia.

Begitulah kenyataan pahit perang, kondisi damai dan aman tenteram mendadak terpaksa rusak supaya kita tidak berkumpul menyatukan kekuatan melawan musuh sebenarnya. Kehancuran komunikasi antar sesama pejuang menyebabkan Nusantara relatif gampang jatuh ke pelukan VOC karena lini pasukan jauh dari kata mencukupi.

kenyataan pahit perang penguasa dapat mengatur damai sesuai Kebutuhan

Semua ahli sejarah dari dalam maupun luar negeri bersepakat bahwa pada saat itu situasi sudah damai sejahtera dari sananya secara alamiah. Belanda bersama VOC membenci kedamaian tersebut karena tidak melahirkan manfaat apapun bagi kelangsungan hidup mereka maka memaksakan kehancuran perdamaian.

Pejuang serta deretan pahlawan bangsa kewalahan mengatasi perbedaan kekuatan terlampau kontras dari segi jumlah maupun kecanggihan teknologi. Momen emas tersebut Belanda segera menyambarnya secepat kilat sebagai tiket langsung perihal menjajah Indonesia seisinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *