Black September
Dunia,  Perang,  Sejarah

Black September Meneror Yordania Puluhan Tahun Lamanya

Bulan sembilan 1970 telah menjadi hari bersejarah besar antara negara Yordania dan Palestina karena sebuah peristiwa teror bernama Black September. Pada saat itu, pasukan kemiliteran Yordania melancarkan aksi penyerangan besar-besaran menghadapi Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO. Kelompok terorisme ini telah mengancam kedaulatan kerajaan di bawah pimpinan perang King Hussein ketika dinasti Hashemite sedang berlangsung. Sang raja berniat mengambil paksa daerah resmi mereka di mana kala itu PLO menjajahnya sepihak.

Kejadian Black September merupakan efek dari buntut pertikaian antara negeri Arabia melawan tentara Israel selama 6 hari berturut-turut tiga tahun sebelumnya. Kubu pemenang terisi oleh sisi Israel sehingga mereka berhak mengambil alih tepian wilayah barat dan sekitarnya. Berkat hasil peperangan itu, sekelompok orang berkewarganegaraan Palestina berinisiatif mengadakan tindakan agresif tanpa ampun.

Black September

Dari sekumpulan komunitas berpola pikir sarat radikalisme ini muncullah seorang bernama Yasser Arafat, nantinya mengepalai organisasi PLO pada 1969 lampau. Secara rapi dan terstruktur, Arafat membangun program kemah pendidikan kemiliteran kepada 40 ribu anak buahnya yang berjulukan Gerilyawan Fedayeen. Negara Yordania sedang pusing mengelola lebih dari seratus ribu jiwa pendatang asal Palestina akibat imbas peresmian berdirinya Israel 1948 an.

Yasser Arafat merupakan sosok pemimpin oportunis serta berjiwa ambisius sehingga ia memanfaatkan setiap kesempatan tanpa basa basi. Hampir dua dekade lamanya Arafat mengerahkan pasukan secara diam-diam dengan mengadakan perekrutan dalam kumpulan populasi pendatang Palestina di Yordania. Setelah Israel mengalahkan telak pasukan King Hussein, kerusuhan berujung baku tembak seringkali terjadi secara intens pada sekitaran Jalan Amman. Rupanya aksi rusuh ini sudah terencana demi melengserkan King Hussein dari kursi tahtanya.

Amerika Serikat tiba-tiba turun tangan memberikan bantuan dan mengajak negara Yordania serta Mesir untuk berunding seputar penciptaan suasana kondusif kembali. Setelah perundingan selesai, akhirnya ketiga negara sepakat mengakui kedaulatan Israel sebagai sebuah negara resmi di bawah jaminan Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, seluruh warga Palestina mengajukan keberatan hingga menyatakan setegas mungkin akan penolakan statement peresmian wilayah Israel.

Black September Tidak Pernah Selesai Berseteru Dengan Yordania

Memasuki awal September 1970, terjadilah insiden pembajakan pesawat atas gagasan George Habash selaku ketua pergerakan Marxis di Front Populer Pembebasan Palestina. Tidak tanggung-tanggung, total lima unit pesawat komersil sukses menjadi tawanan teroris ini berikut seluruh penumpangnya. Tiga unit pesawat bajakan mereka daratkan di wiliayah padang gurun berpasir kemudian George memerintahkan untuk membakarnya. Puluhan hingga ratusan warga sipil ia jadikan sanderaan sehingga gegerlah seluruh media massa di dunia memberitakannya saat itu.

Pertengahan September, King Hussein tidak dapat lagi menahan nafsu amarahnya lalu mengerahkan lima puluh ribu prajurit militer. Tujuannya sudah jelas, yaitu untuk mengusir para pengungsi asal Palestina dari wilayah negara pemerintahan kerajaan pimpinannya. Setiap personil menghitamkan permukaan wajah mereka, lalu menggempur kemah pengungsian di sisi pinggir kota Amman.

Black September

Komunitas persaudaraan dari negeri Suriah juga turut membantu peperangan di pihak terorisme Palestina melawan bala tentara King Hussein. Kerajaan Hashemite sangat kelimpungan harus mengatasi serangan dari dua arah secara bersamaan. Apalagi tentara simpatisan Suriah mempunyai perlengkapan kendaraan berlapis baja berkualitas tinggi di sebelah utara. Sebagian besar bangunan baik itu rumah, kantor, gedung, kesemuanya mengalami kerusakan parah akibat rundungan peluru dari persenjataan tingkat tinggi.

Setelah sepuluh hari peperangan tiada henti bersimbah darah, kedua belah pihak sepakat untuk menandatangani perjanjian damai supaya perang terselesaikan. PFLP setuju untuk melepaskan semua sandera paling lambat dua hari setelah kesepakatan terjadi. Sebagai gantinya, mereka menuntut pengembalian lokasi pengungsian dalam wilayah Yordania. Maka dari itu, tidaklah mengherankan bila pecah perang terulang kembali setahun setelahnya yakni 1971 bulan Maret.

Perdana Menteri Wasfi Al-Tel berhasil memukul mundur Arafat beserta pasukannya sehingga mereka harus melarikan diri menuju Libanon. Namun malang nasibnya, beberapa bulan selanjutnya beliau harus wafat terbunuh oleh anggota terlatih Organisasi Black September. Komunikasi antara Yordania melawan teroris Palestina tersebut tidak pernah mencapai kata mufakat seumur hidup hingga meninggalnya King Hussein 30 tahun berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *